Ilmuwan Afrika memperingatkan bahwa makan daging monyet dan kera dapat menyebabkan HIV dan ebola.
YAOUNDE – Para ilmuwan Kamerun memperingatkan bahwa makan daging monyet dan kera dapat menyebabkan human immunodeficiency virus (HIV) selanjutnya. Mereka telah melacak sebuah virus seperti HIV yang disebut simian foamy atau virus simian berbusa (SFV) dan khawatir makin banyak virus yang menyebar dan menimbulkan krisis kesehatan global.
Sebanyak 80 persen dari daging yang dimakan di Kamerun dibunuh di alam liar. menurut Daily Mail, Jumat (25/5). Daging-daging tersebut dikenal sebagai 'daging hutan', seperti gorila, simpanse atau monyet yang menjadi favorit.
Menurut perkiraan, hingga 3.000 gorila disembelih di Kamerun selatan setiap tahun.
Lain lagi dengan Bush Meat Crisis Task Force yang berbasis di Washington, Amerika Serikat. Estimasi satuan tugas ini menunjukkan hingga lima juta ton hewan liar sedang 'panen' di Kongo Basin setiap tahun. Ini setara dengan 10 juta ternak.
Tahun ini, sebuah studi yang dilakukan US Centers for Disease Control and Prevention (CDC) juga mengidentifikasi virus simian berbusa dalam produk satwa liar ilegal impor yang sita di beberapa bandar udara internasional AS, termasuk John F. Kennedy International Airport, George Bush Intercontinental-Houston, dan Atlanta Hartsfield-Jackson International.
Babila Tafon, Kepala Tempat Penampungan Primata Ape Action Africa (AAA) di Mefou, di luar ibu kota Kamerun, Yaounde, telah melihat virus tersebut pada hewan yang dibawa ke tempat penampungan yang dikelolanya. Penampungan ini merawat 22 gorila dan lebih dari seratus simpanse yatim dari betina atau jantan yang diperdagangkan sebagai daging hutan.
Tafon telah memeriksa darah semua kera yang tiba di tempat penampungan. Baru-baru ini, kata dia, terdeteksi virus simian berbusa yang terkait erat dengan HIV, dalam kera.
'Sebuah survei terakhir mengkonfirmasi virus ini sekarang pada manusia, terutama di beberapa pemburu yang memotong kera di-selatan timur negara itu," kata dia.
Dia juga berpendapat bahwa virus ebola mungkin ada dan menyebabkan kematian massal terakhir di desa tetangga.
'Di desa Bakaklion, saudara-saudara kita menemukan gorila mati di hutan, " kata Felix Biango, sesepuh desa.
Sebanyak 80 persen dari daging yang dimakan di Kamerun dibunuh di alam liar. menurut Daily Mail, Jumat (25/5). Daging-daging tersebut dikenal sebagai 'daging hutan', seperti gorila, simpanse atau monyet yang menjadi favorit.
Menurut perkiraan, hingga 3.000 gorila disembelih di Kamerun selatan setiap tahun.
Lain lagi dengan Bush Meat Crisis Task Force yang berbasis di Washington, Amerika Serikat. Estimasi satuan tugas ini menunjukkan hingga lima juta ton hewan liar sedang 'panen' di Kongo Basin setiap tahun. Ini setara dengan 10 juta ternak.
Tahun ini, sebuah studi yang dilakukan US Centers for Disease Control and Prevention (CDC) juga mengidentifikasi virus simian berbusa dalam produk satwa liar ilegal impor yang sita di beberapa bandar udara internasional AS, termasuk John F. Kennedy International Airport, George Bush Intercontinental-Houston, dan Atlanta Hartsfield-Jackson International.
Babila Tafon, Kepala Tempat Penampungan Primata Ape Action Africa (AAA) di Mefou, di luar ibu kota Kamerun, Yaounde, telah melihat virus tersebut pada hewan yang dibawa ke tempat penampungan yang dikelolanya. Penampungan ini merawat 22 gorila dan lebih dari seratus simpanse yatim dari betina atau jantan yang diperdagangkan sebagai daging hutan.
Tafon telah memeriksa darah semua kera yang tiba di tempat penampungan. Baru-baru ini, kata dia, terdeteksi virus simian berbusa yang terkait erat dengan HIV, dalam kera.
'Sebuah survei terakhir mengkonfirmasi virus ini sekarang pada manusia, terutama di beberapa pemburu yang memotong kera di-selatan timur negara itu," kata dia.
Dia juga berpendapat bahwa virus ebola mungkin ada dan menyebabkan kematian massal terakhir di desa tetangga.
'Di desa Bakaklion, saudara-saudara kita menemukan gorila mati di hutan, " kata Felix Biango, sesepuh desa.
"Mereka membawanya ke desa dan makan dagingnya. Tak lama kemudian, semua orang meninggal--25 orang yang terdiri dari pria, permpuan, dan anak-anak. Satu-satunya yang hidup dalam seorang perempuan yang tidak makan daging”.
Profesor Dominique Baudon, Direktur Pusat Pasteur di Yaounde, mengkhawatirkan virus dapat dengan cepat menyebar. Dengan para pemburu makin masuk ke dalam hutan, lanjut dia, dan semakin banyak primata yang dikonsumsi, semakin banyak orang terkena virus baru yang tidak diketahui. Virus baru tersebut diduga adalah virus yang bermutasi dalam bentuk yang berpotensi agresif.
Peneliti pemerintah mengakui bahwa mereka tidak tahu apa efek jangka panjang dari SFV. Pemerintah Kanada, baru-baru ini, mengatakan mereka bahkan tidak yakin bagaimana penularannya.
'Metode yang tepat tentang penularan belum dikonfirmasi, tetapi ada indikasi bahwa virus dapat ditularkan melalui kontak dengan darah, air liur, dan cairan tubuh lain dari hewan yang terkena," kata Baudon.
(Daily Mail)
Peneliti pemerintah mengakui bahwa mereka tidak tahu apa efek jangka panjang dari SFV. Pemerintah Kanada, baru-baru ini, mengatakan mereka bahkan tidak yakin bagaimana penularannya.
'Metode yang tepat tentang penularan belum dikonfirmasi, tetapi ada indikasi bahwa virus dapat ditularkan melalui kontak dengan darah, air liur, dan cairan tubuh lain dari hewan yang terkena," kata Baudon.
















