Tuntong Laut – Batagur borneoensis Salah Satu Reptil Terlangka
Tuntong laut atau Batagur borneoensis merupakan salah satu reptil terlangka di dunia. Di Indonesia, tuntong laut termasuk satu diantara 7 reptil paling langka dan terancam punah. Bahkan Wildlife Conservation Society dan Turtle Conservation Coalition, memasukkan tuntong laut dalam Top 25 Endangered Tortoises and Freshwater Turtles (25 Penyu dan Kura-Kura Paling Terancam Punah).
Selain itu, reptil yang dilindungi di Indonesia ini juga menyandang status Spesies Critically Endangered dari IUCN Redlist serta terdaftar sebagai apendiks II CITES.
Tuntong laut
dalam beberapa bahasa daerah disebut sebagai beluku, tuntong semangka
dan tuntung (Sumatera), kura-kura jidat merah (Kalbar), tumtum (Kaltim).
Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Painted Batagur, Painted Terrapin, Saw-jawed Terrapin, atau Three-striped Batagur. Sedangkan nama ilmiah hewan ini adalah Batagur borneoensis yang mempunyai sinonim Callagur borneoensis dan Emys borneoensis.
Diskripsi Tuntong Laut. Tuntong laut
merupakan salah satu jenis kura-kura yang lebih banyak hidup di air
payau. Karapas tuntong laut berukuran sekitar 60 cm. Tuntong laut
laki-laki memiliki tiga garis hitam yang membujur sepanjang karapas.
Sedangkan pada betina berwarna coklat ke abu-abu. Kepala betina berwarna
coklat sedangkan laki-lakinya memiliki kepala berwarna abu-abu atau
putih.
Tuntong laut (Batagur borneoensis)
memakan daun, tunas, buah mangrove, dan kerang. Telurnya berukuran
68-76 x 36-44 mm yang diletakkan di sarang yang dibuat di pantai. Dalam
satu sarang, terdapat antara 12-22 butir telur. Sebagian besar aktifitas
dilakukan di dalam air, dan hanya sesekali berada di luar air dan
berjemur di pinggir sungai atau di atas batang-batang kayu.
Habitatnya adalah muara, anak sungai, hutan bakau
dan daerah lain yang masih dipengaruhi oleh pasang surut air laut.
Sedangkan daerah sebaran alami tuntong laut meliputi Brunei Darussalam,
Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Di Indonesia tuntong laut ini
mendiami daerah pesisir pantai di pulau Sumatera dan Kalimantan.
Ancaman dan Konservasi. Populasi tuntong laut (Batagur borneoensis)
tidak diketahu secara pasti. Namun berbagai pihak meyakini terus
mengalami penurunan. Ancaman yang mengakibatkan penurunan populasi
tuntong laut terutama diakibatkan oleh perburuan dan perdagangan satwa
baik daging, karapas, telurnya, maupun anakannya untuk dijadikan hewan
peliharaan. Selain itu, hilang dan rusaknya habitat mulai dari pantai,
sungai dan hutan bakau, pun menjadi salah satu penyebab semakin
langkanya reptil ini.
Karena populasinya yang diyakini semakin menurun dan perburuan dan perdagangan satw3a ini yang terus berlangsung IUCN Redlist memasukkan tuntong laut dalam kategori satwa kritis (Critically Endangered). Sedangkan CITES memasukkannya dalam daftar Apendiks II.
Bahkan Wildlife Conservation Society dan Turtle Conservation Coalition, memasukkan tuntong laut dalam Top 25 Endangered Tortoises and Freshwater Turtles (25 Penyu dan Kura-Kura Paling Terancam Punah). Di Indonesia sendiri, tuntong laut termasuk satwa yang dilindungi berdasarkan PP. No. 7 Tahun 1999.
Saat browsing saya masih saja menemukan beberapa situs jual beli hewan online
yang menawarkan anakkan tuntong laut sebagai hewan peliharaan. Sungguh
sangat disayangkan, hewan yang di alam sangat terancam punah ini masih
saja dimanfaatkan oleh sebagian kita demi mendapatkan keuntungan
pribadi.
Klasifikasi ilmiah: Kerajaan; Animalia. Filum: Chordata. Kelas. Reptilia. Ordo: Testudines. Famili: Geoemydidae. Gebus: Batagur. Spesies: Batagur borneoensis.
Referensi dan gambar:
-
www.iucnredlist.org/apps/redlist/details/163458/0
-
www.asianturtlenetwork.org/field_guide/Callagur_borneoensis.htm
-
turtlesurvival.org/component/taxonomy/term/summary/37/37
-
gambar: www.asianturtlenetwork.org

Tidak ada komentar:
Posting Komentar