Senin, 11 Juni 2012

Daging Monyet Terkait HIV




Ilmuwan Afrika memperingatkan bahwa makan daging monyet dan kera dapat menyebabkan HIV dan ebola.
YAOUNDE – Para ilmuwan Kamerun memperingatkan bahwa makan daging monyet dan kera dapat menyebabkan human immunodeficiency  virus (HIV) selanjutnya. Mereka telah melacak sebuah virus seperti HIV yang disebut simian foamy atau virus simian berbusa (SFV) dan khawatir makin banyak virus yang menyebar dan menimbulkan krisis kesehatan global.

Sebanyak 80 persen dari daging yang dimakan di Kamerun dibunuh di alam liar. menurut Daily Mail, Jumat (25/5). Daging-daging tersebut dikenal sebagai 'daging hutan', seperti gorila, simpanse atau monyet yang menjadi favorit.

Menurut perkiraan, hingga 3.000 gorila disembelih di Kamerun selatan setiap tahun.

Lain lagi dengan Bush Meat Crisis Task Force yang berbasis di Washington, Amerika Serikat. Estimasi satuan tugas ini menunjukkan hingga lima juta ton hewan liar sedang 'panen' di Kongo Basin setiap tahun. Ini setara dengan 10 juta ternak.

Tahun ini, sebuah studi yang dilakukan US Centers for Disease Control and Prevention (CDC) juga mengidentifikasi virus simian berbusa dalam produk satwa liar ilegal impor yang sita di beberapa bandar udara internasional AS, termasuk John F. Kennedy International Airport, George Bush Intercontinental-Houston, dan Atlanta Hartsfield-Jackson International.

Babila Tafon, Kepala Tempat Penampungan Primata Ape Action Africa (AAA) di Mefou, di luar ibu kota Kamerun, Yaounde, telah melihat virus tersebut pada hewan yang dibawa ke tempat penampungan yang dikelolanya. Penampungan ini merawat 22 gorila dan lebih dari seratus simpanse yatim dari betina atau jantan yang diperdagangkan sebagai daging hutan.

Tafon telah memeriksa darah semua kera yang tiba di tempat penampungan. Baru-baru ini, kata dia, terdeteksi virus simian berbusa yang terkait erat dengan HIV, dalam kera.

'Sebuah survei terakhir mengkonfirmasi virus ini sekarang pada manusia, terutama di beberapa pemburu yang memotong kera di-selatan timur negara itu," kata dia.

Dia juga berpendapat bahwa virus ebola mungkin ada dan menyebabkan kematian massal terakhir di desa tetangga.

'Di desa Bakaklion, saudara-saudara kita menemukan gorila mati di hutan, " kata Felix Biango, sesepuh desa.
"Mereka membawanya ke desa dan makan dagingnya. Tak lama kemudian, semua orang meninggal--25 orang yang terdiri dari pria, permpuan, dan anak-anak. Satu-satunya yang hidup dalam seorang perempuan yang tidak makan daging”.
 
Profesor Dominique Baudon, Direktur Pusat Pasteur di Yaounde, mengkhawatirkan virus dapat dengan cepat menyebar. Dengan  para pemburu makin masuk ke dalam hutan, lanjut dia, dan semakin banyak primata yang dikonsumsi, semakin banyak orang terkena virus baru yang tidak diketahui. Virus baru tersebut diduga adalah virus yang bermutasi dalam bentuk yang berpotensi agresif.

Peneliti pemerintah mengakui bahwa mereka tidak tahu apa efek jangka panjang dari SFV. Pemerintah Kanada, baru-baru ini, mengatakan mereka bahkan tidak yakin bagaimana penularannya.

'Metode yang tepat tentang penularan belum dikonfirmasi, tetapi ada indikasi bahwa virus dapat ditularkan melalui kontak dengan darah, air liur, dan cairan tubuh lain dari hewan yang terkena," kata Baudon.
(Daily Mail) 

Minggu, 10 Juni 2012

Perdagangan satwa (hewan) dilindungi di Jawa dan Bali

Perdagangan satwa (hewan) dilindungi di Jawa dan Bali meningkat pada dua bulan pertama tahun 2012. Meningkatnya perdagangan satwa yang dilindungi undang-undang ini dirilis oleh Lembaga perlindungan hewan ProFauna Indonesia pertengahan Maret silam.
Meningkatnya perdagangan hewan yang dilindungi (dan langka) ini bisa dilihat dari temuan ProFauna Indonesia berdasarkan survey yang dilakukan di delapan pasar burung di Jawa dan Bali. Jika pada bulan Januari 2012 terdapat 41 ekor (terdiri 12 spesies) satwa dilindungi yang dijual, pada bulan Februari naik menjadi 62 ekor (terdiri 15 spesies).
Ke-15 spesies satwa yang dilindungi undang-undang (hewan langka) yang diperdagangkan di pasar-pasar burung di Jawa dan Bali berdasarkan temuan ProFauna Indonesia adalah:
  • Lutung jawa (Trachypithecus auratus)
  • Kukang (Nycticebus sp)
  • Elang laut (Haliaeetus leucogaster)
  • Jalak putih (Sturnus melanopterus)
  • Tohtor (Megalaima armilaris)
  • Alap alap sapi (Falco moluccensis)
  • Jalak bali (Leucopsar rothschildi)
  • Elang hitam (Ictinaetus malayensis)
  • Penyu hijau (Chelonia mydas)
  • Paok pancawarna (Pitta guajana)
  • Musang air (Cynogale bennetti)
Survey dilaksanakan di delapan pasar burung yaitu Pasar burung Splendid Malang, Pasar burung Bratang Surabaya, Pasar burung Kupang Surabaya, Pasar burung Turi Surabaya, Pasar burung Pramuka Jakarta, Pasar burung Jatinegara Jakarta, Pasar burung Barito Jakarta dan Pasar burung Satria Denpasar. Pasar burung yang paling banyak menjual satwa dilindungi adalah Pramuka, Jatinegara dan Satria Denpasar.
Hewan dalam kurungan
Hewan ini tidak pernah memilih untuk berada di dalam kurungan
Yang cukup mengherankan, perdagangan satwa dari jenis yang dilindungi undang-undang ini dilakukan secara terbuka. Padahal transaksi jual-beli hewan-hewan yang terdaftar sebagai satwa dilindungi jelas melanggar ketentuan dalam Undang-undang Nomor 5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Menurut undang-undang ini pelaku perdagangan satwa dilindungi bisa dikenakan hukuman pidana penjara 5 tahun dan denda Rp 100 juta. (Daftar hewan yang dilindungi di Indonesia baca: Lampiran PP No. 7 Tahun 1999).
Sayangnya pemerintah seakan-akan ‘tidak pernah punya waktu’ untuk menertibkan perdagangan satwa langka itu. Dan ini baru yang ditemukan oleh ProFauna Indonesia, belum perdagangan satwa langka yang dilindungi lainnya (termasuk jual beli hewan secara online) yang bisa jadi jumlahnya lebih banyak.
Referensi:
  • www.profauna.net/id/siaran-pers/2012/meningkat-perdagangan-satwa-dilindungi-di-pasar-burung-di-jawa-bali

Elang Bondol sebagai maskot kota Jakarta

Elang Bondol sebagai maskot kota Jakarta, pastinya sudah diketahui oleh semua warga kota Jakarta. Bahkan bus transjakarta pun turut menggunakan gambar burung Elang Bondol (dengan mencengkeram Salak Condet) sebagai logo yang terpasang di setiap bisnya. Namun bagi yang memperhatikan pastinya juga akan mafhum jika semakin hari, Sang Maskot Kota Jakarta, Elang Bondol, semakin sulit dijumpai dan langka.
Elang Bondol merupakan salah satu jenis elang yang dapat dijumpai di Indonesia. Elang Bondol kadang disebut juga sebagai Lang Lang Merah atau Elang Tembikar. Dalam bahasa Inggris dikenal dengan sebutan Brahminy Kite atau Red-backed Sea-eagle. Sedangkan nama ilmiah hewan ini adalah Haliastur indus yang bersinonim dengan Falco indus.
Ciri-ciri dan Perilaku Elang Bondol. Elang Bondol berukuran sedang dengan besar sekitar 45 cm. Pada elang dewasa, bagian kepala, leher, hingga dada berwarna putih sedangkan bulu lainnya berwarna coklat pirang. Pada elang remaja, hampir keseluruhan bulunya berwarna coklat.
Elang Bondol
Elang Bondol sedang hinggap
Elang Bondol sering kali hidup sendiri. Meskipun pada daerah dengan sumber makanan yang melimpah dapat hidup berkelompok hingga mencapai 35 individu. Bukan hanya penampilannya saja yang terlihat gagah, namun gerakan akrobatik burung ini di udara juga kerap mempesona. Elang Bondol sering memamerkan gerakan terbang naik dengan cepat diselingi gerakan menggantung di udara, kemudian menukik tajam dengan sayap terlipat dan dilakukan secara berulang-ulang. Selain itu sering kali burung ini terbang rendah di atas permukaan air untuk mencari mangsa.
Makanan Elang Bondol cukup bervariasi. Burung ini sering memakan kepiting, udang, dan ikan, hingga sampah dan ikan sisa tangkapan nelayan. Elang Bondol juga memangsa burung, anak ayam, serangga, dan mamalia kecil. Mangsa tersebut dapat berupa mangsa hidup ataupun telah mati.
Suara burung Elang Bondol saat terbang berpasangan terdengar seperti jeritan dengan suara “iiuw-wir-r-r-r-r”. Dan saat memburu pendatang atau burung saingan akan mengeluarkan suara lengkingan keras bernada “piiiii-yah”.
Musim berkembang biak biasanya berlangsung pada bulan Januari-Juli dan Mei-Oktober. Burung ini akan membuat sarang yang tersusun atas patahan batang, rumput, daun, rumput laut, sisa makanan dan sampah dan diletakkan di atas pohon yang tersembunyi. Dalam satu musim bertelur antara 1-4 butir berwarna berwarna putih, sedikit berbintik merah yang akan menetas setalah dierami selama 28-35 hari. Anak elang mulai belajar terbang di usia 40-56 hari, dan mulai hidup mandiri setelah dua bulan.
Daerah Persebaran dan Habitat. Elang Bondol (Haliastur indus) mempunyai daerah persebaran yang luas mulai dari Australia, Bangladesh, Brunei Darussalam, Kamboja, Cina, India, Indonesia, Laos, Makao, Malaysia, Myanmar, Nepal, Pakistan, Papua New Guinea, Filipina, Singapura, Kepulauan Solomon, Sri Lanka, Taiwan, Taiwan, Thailand, Timor-Leste, dan Vietnam. Di Indonesia, burung yang menjadi maskot kota Jakarta ini dapat ditemukan di Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, Papua.
Habitat utama burung Elang bOndol adalah daerah pesisir pantai, hutan mangrove, rawa-rawa, dan danau di daerah dataran rendah hingga ketinggian 3000 meter dpl.
Elang Bondol Terbang
Elang bOndol tengah terbang
Populasi dan Konservasi. Secara global diperkirakan populasi burung Elang Bondol sekitar 100.000 individu dewasa (birdlife). Di tambah dengan daerah persebarannya yang sangat luas, membuat IUCN Red List tetap memberikan status konservasi
Least Concern (Resiko Rendah) kepada burung pemangsa ini sejak 2004. Sedangkan CITES (Convention on International Trade of Endangered Fauna and Flora / Konvensi tentang Perdagangan International Satwa dan Tumbuhan) memasukkannya dalam daftar Apendiks II.
Di Indonesia sendiri Elang Bondol termasuk satwa yang dilindungi dan terdaftar dalam lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999. Selain itu Elang Bondol ditetapkan sebagai Fauna Identitas (Maskot) Provinsi DKI Jakarta mendampingi Salak Condet (Flora Identitas) berdasarkan Keputusan Gubernur No 1796 Tahun 1989. Terakhir, burung pemangsa ini juga dijadikan logo Transjakarta.
Meskipun populasi global masih dianggap cukup aman dari kepunahan, namun di beberapa tempat di Indonesia, Elang Bondol justru mulai langka dan sulit ditemukan. Kota Jakarta yang mengambil burung ini ssebagai maskotnya termasuk daerah yang ‘ditinggalkan’ burung ini. Keberadaannya hanya bisa ditemukan di beberapa pulau di Kepulauan Seribu saja.
Penurunan populasi Elang Bondol diakibatkan oleh hilangnya habitat, perburuan dan perdagangan satwa, penggunaan pestisida yang berlebihan dan semakin berkurangnya mangsa akibat pencemaran laut.
Memang sangat ironis jika di kota yang menjadikannya sebagai maskot, burung Elang Bondol justru mulai langka dan sulit ditemukan. Kecuali tentunya jika kita berdiri di pinggir jalan dan menanti bis Transjakarta. Atau mungkinkah kedepannya, warga Jakarta hanya bisa melihat maskotnya tergambar di badan bis Transjakarta saja?.
Klasifikasi ilmiah: Kerajaan: Animalia. Filum: Chordata. Kelas: Aves. Ordo: Falconiformes. Famili: Accipitridae. Genus: Haliastur. Spesies: Haliastur indus.
Referensi dan gambar:
  • www.iucnredlist.org/apps/redlist/details/106003358
  • www.birdlife.org/datazone/speciesfactsheet.php?id=3358
  • www.unep-wcmc-apps.org
  • Gambar: commons.wikimedia.org

Katak Pelangi Kalimantan Pernah Jadi Most Wanted


Katak Pelangi Kalimantan kadang disebut juga sebagai Katak Sungai Sambas. Katak yang dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Sambas Stream Toad yang mempunyai nama latin (ilmiah) Ansonia latidisca.
Nama “pelangi” didapat katak ini lantaran kulitnya yang mempunyai pola warna hijau terang, ungu, dan merah. Disekujur kulitnya yang berwarna-warni ditumbuhi bintik-bintik mirip kutil. Ukuran katak pelangi sendiri tergolong kecil, panjangnya antara 30 hingga 50 mm. Sedangkan nama ‘Sambas Stream Toad” didapatkan lantaran pertama kali katak ini ditemukan di aliran-aliran sungai di sekitar Sambas.
Katak pelangi merupakan hewan endemik yang hanya dapat ditemukan di pulau Kalimantan (Indonesia dan Malaysia). Penemuan pertama kali pada tahun 1924, katak langka ini dijumpai di Gunung Damus, Sambas, Kalimantan (Indonesia) dan Gunung Penrissen, Sarawak (Malaysia). Di tempat kedua inilah kemudian pada tahun 2011 ditemukan kembali tiga ekor katak pelangi.
Katak Pelangi Kalimantan
Kepala dan mata katak pelangi kalimantan
Belum banyak yang bisa diungkap dari perilaku katak pelangi (Ansonia latidisca) ini. Termasuk berapa jumlah populasi maupun daerah persebarannya. Namun diperkirakan katak berkulit unik ini mendiami hutan-hutan primer yang merupakan hutan hujan pegunungan.
Katak Pelangi Kalimantan (Ansonia latidisca) merupakan hewan terestrial (hidup di permukaan tanah) di dekat sumber air tawar. Ancaman utama bagi Katak Pelangi Kalimantan adalah hilangnya habitat dan degradasi lingkungan akibat deforestasi hutan dan alih fungsi hutan.
Katak Pelangi dalam daftar Most Wanted
Katak Pelangi dalam daftar Most Wanted
Katak pelangi kalimantan oleh IUCN Redlist didaftar dalam status konservasi Endangered (Terancam Punah) sejak 2004. Sedangkan di Indonesia sendiri, katak pelangi mungkin ‘belum dikenal’ sehingga meskipun pada 2010 pernah ditetapkan sebagai Top 10 Most Wanted Lost Frogs (Sepuluh Katak Langka Paling Dicari) oleh SSC IUCN global Spesialis Amfibi dan Conservation International, namun namanya luput dan tidak termasuk dalam daftar hewan yang dilindungi di Indonesia.
Klasifikasi ilmiah: Kerajaan: Animalia. Filum: Chordata. Kelas: Amphibia. Ordo: Anura. Famili: Bufonidae. Genus: Ansonia. Spesies: Ansonia latidisca.
Referensi dan gambar:
  • www.iucnredlist.org/apps/redlist/details/54471/0
  • www.conservation.org/newsroom/pressreleases/Pages/Lost_mphibian_Stages_Amazing_Reappearing_Act.aspx
  • www.amphibians.org/blog/2011/09/16/bornean-rainbow-toad
  • nationalgeographic.co.id/berita/2011/07/kodok-pelangi-borneo-ditemukan-kembali-setelah-87-tahun
  • gambar: www.conservation.org

Reptil Terlangka

Tuntong Laut – Batagur borneoensis Salah Satu Reptil Terlangka

Tuntong laut atau Batagur borneoensis merupakan salah satu reptil terlangka di dunia. Di Indonesia, tuntong laut termasuk satu diantara 7 reptil paling langka dan terancam punah. Bahkan Wildlife Conservation Society dan Turtle Conservation Coalition, memasukkan tuntong laut dalam Top 25 Endangered Tortoises and Freshwater Turtles (25 Penyu dan Kura-Kura Paling Terancam Punah).
Selain itu, reptil yang dilindungi di Indonesia ini juga menyandang status Spesies Critically Endangered dari IUCN Redlist serta terdaftar sebagai apendiks II CITES.
Tuntong laut dalam beberapa bahasa daerah disebut sebagai beluku, tuntong semangka dan tuntung (Sumatera), kura-kura jidat merah (Kalbar), tumtum (Kaltim). Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Painted Batagur, Painted Terrapin, Saw-jawed Terrapin, atau Three-striped Batagur. Sedangkan nama ilmiah hewan ini adalah Batagur borneoensis yang mempunyai sinonim Callagur borneoensis dan Emys borneoensis.
Tuntong Laut Batagur borneoensis
Tuntong Laut (Batagur borneoensis) jantan (bawah) dan betina (atas)
Diskripsi Tuntong Laut. Tuntong laut merupakan salah satu jenis kura-kura yang lebih banyak hidup di air payau. Karapas tuntong laut berukuran sekitar 60 cm. Tuntong laut laki-laki memiliki tiga garis hitam yang membujur sepanjang karapas. Sedangkan pada betina berwarna coklat ke abu-abu. Kepala betina berwarna coklat sedangkan laki-lakinya memiliki kepala berwarna abu-abu atau putih.
Tuntong laut (Batagur borneoensis) memakan daun, tunas, buah mangrove, dan kerang. Telurnya berukuran 68-76 x 36-44 mm yang diletakkan di sarang yang dibuat di pantai. Dalam satu sarang, terdapat antara 12-22 butir telur. Sebagian besar aktifitas dilakukan di dalam air, dan hanya sesekali berada di luar air dan berjemur di pinggir sungai atau di atas batang-batang kayu.
Habitatnya adalah muara, anak sungai, hutan bakau dan daerah lain yang masih dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Sedangkan daerah sebaran alami tuntong laut meliputi Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Di Indonesia tuntong laut ini mendiami daerah pesisir pantai di pulau Sumatera dan Kalimantan.
Ancaman dan Konservasi. Populasi tuntong laut (Batagur borneoensis) tidak diketahu secara pasti. Namun berbagai pihak meyakini terus mengalami penurunan. Ancaman yang mengakibatkan penurunan populasi tuntong laut terutama diakibatkan oleh perburuan dan perdagangan satwa baik daging, karapas, telurnya, maupun anakannya untuk dijadikan hewan peliharaan. Selain itu, hilang dan rusaknya habitat mulai dari pantai, sungai dan hutan bakau, pun menjadi salah satu penyebab semakin langkanya reptil ini.
Karena populasinya yang diyakini semakin menurun dan perburuan dan perdagangan satw3a ini yang terus berlangsung IUCN Redlist memasukkan tuntong laut dalam kategori satwa kritis (Critically Endangered). Sedangkan CITES memasukkannya dalam daftar Apendiks II.
Bahkan Wildlife Conservation Society dan Turtle Conservation Coalition, memasukkan tuntong laut dalam Top 25 Endangered Tortoises and Freshwater Turtles (25 Penyu dan Kura-Kura Paling Terancam Punah). Di Indonesia sendiri, tuntong laut termasuk satwa yang dilindungi berdasarkan PP. No. 7 Tahun 1999.
Saat browsing saya masih saja menemukan beberapa situs jual beli hewan online yang menawarkan anakkan tuntong laut sebagai hewan peliharaan. Sungguh sangat disayangkan, hewan yang di alam sangat terancam punah ini masih saja dimanfaatkan oleh sebagian kita demi mendapatkan keuntungan pribadi.
Klasifikasi ilmiah: Kerajaan; Animalia. Filum: Chordata. Kelas. Reptilia. Ordo: Testudines. Famili: Geoemydidae. Gebus: Batagur. Spesies: Batagur borneoensis.
Referensi dan gambar:
  • www.iucnredlist.org/apps/redlist/details/163458/0
  • www.asianturtlenetwork.org/field_guide/Callagur_borneoensis.htm
  • turtlesurvival.org/component/taxonomy/term/summary/37/37
  • gambar: www.asianturtlenetwork.org